Site icon Conservation news

Dapatkah Perangkap Kamera Selamatkan Kehidupan Rimba di Seluruh Dunia?

Aman untuk dikatakan bahwa perangkap kamera yang sederhana telah merevolusi konservasi kehidupan rimba. Alat unik yang sederhana ini – kamera digital otomatis yang mengambil foto dengan flash setiap seekor hewan memicu sensor infra merah – memungkinkan para ilmuwan, dengan sedikit biaya dan usaha yang relatif – paling tidak jika dibandingkan dengan menjelajahi hutan tropis dan rawa mencari kotoran dari badak yang terancam punah. Saat ini peneliti dari Wildlife Conservation Society (WCS) dan Zoological Society of London (ZSL) menggunakan fungsi perangkap kamera satu langkah lebih maju: penelitian dalam Animal Conservation menggunakan metodologi baru, dinamakan Wildlife Picture Index (WPI), untuk menganalisa tren populasi dari 26 spesies di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Pulau Sumatera Indonesia. Sementara penelitian tersebut menemukan suramnya penurunan spesies, penelitian tersebut menunjukkan potensi perangkap kamera untuk menggerakkan konservasi maju karena penggunaannya menandai pertama kalinya peneliti menggunakan perangkap kamera untuk menganalisa tren populasi jangka panjang dari banyak spesies.



“Wildlife Picture Index merupakan alat yang sangat efektif untuk memantau tren dalam keberagaman kehidupan rimba yang sebelumnya hanya dapat diestimasikan secara kasar,” penulis utama penelitian, Tim O’Brien dari WCS mengatakan dalam rilis berita. “Metodologi baru ini akan membantu para pelestari konservasionis untuk menentukan di mana mereka akan memfokuskan usaha mereka untuk membantu membendung gelombang berkurangnya keragaman hayati di lanskap yang luas.”



Badak Sumatera tertangkap perangkap kamera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) sedang berada di ujung kepunahan: dipercaya kurang dari 250 individu yang masih bertahan hidup di alam liar. Spesies ini, badak terkecil di dunia, terdaftar sebagai Sangat Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN dan terancam oleh penggundulan hutan yang meluas, pemburuan atas culanya, dan kini oleh kenyataan sederhana bahwa hanya terdapat yang sangat sedikit badak sehingga sulit saling mencari sesamanya dan berkembang biak. Foto milik WCS.

Mengumpulkan selama 8 tahun lebih dari 5.000 foto perangkap kamera dari Taman Nasional Bukit Barisa Selatan, O’Brien dan koleganya menganalisa tren populasi dari 25 mamalian dan satu burung daratan. Mereka menemukan bahwa keragaman hayati mengalami penurunan total sebesar 36 persen di wilayah yang dilindungi, sebuah kekurangan yang pada kenyataannya melampaui penggundulan hutan di daerah tersebut.



Spesies yang dicari untuk pasar gelap yang menguntungkan, seperti harimau, badak, dan gajah, jatuh lebih cepat dari pada yang lebih kecil, seperti kera dan rusa, yang dibunuh untuk makanan atau karena dianggap hama pertanian. Spesies yang tidak memiliki nilai ekonomis menunjukkan sedikit perubahan dalam jumlahnya yang banyak.



Peneliti berpendapat bahwa metode ini, WPI, dapat membantu tujuan Convention on Biological Diversity (CBD) yang dikenal secaara internasional, yang hampir dari semua usahanya belum berhasil mencapai tujuannya untuk membendung berkurangnya keragaman hayati tahun ini. WPI mungkin membantu menyediakan garis dasar yang lebih baik atas data keragaman hayati dunia, terutama di tropis di mana data seperti itu sering kali kurang.



“Wildlife Picture Index akan memungkinkan para konservasionis untuk mengukur keragaman hayati di suatu wilayah dengan lebih akurat yang sebelumnya mungkin terlalu mahal atau secara logistik dilarang. Kami percaya bahwa metodologi ini akan dapat mengisi kesenjangan kritis dalam pengetahuan keragaman hayati sambil memberikan data garis dasar yang banyak dibutuhkan untuk mengakses keberhasilan atau kegagalan di tempat-tempat yang kami kerjakan,” ujar John Robinson, Wakil Presiden Eksekutif WCS untuk Pelestarian dan Keilmuan.



Salah satu aspek positif lain dari foto perangkap kamera adalah mereka membuat publik bisa melihat hewan-hewan di habitat natural mereka, diharapkan menanamkan ketertarikan dan perhatian yang lebih dalam atas kehidupan rimba dunia yang menyusut dan terkepung.






KUTIPAN: T. G. O’Brien, J. E. M. Baillie, L. Krueger & M. Cuke. The Wildlife Picture Index: monitoring top trophic levels. Animal Conservation (2010) 1–9 c_2010. doi:10.1111/j.1469-1795.2010.00357.x.







Harimau Sumatera tertangkap perangkap kamera. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), salah satu sub spesies harimau, terdaftar sebagai Sangat Terancam Punah dalam Daftar Merah IUCN. Seperti badak Sumatera, harimau di pulau tersebut harus bertahan hidup di petak-petak hutan yang lebih kecil dan dari perburuan atas tulang-tulang mereka yang digunakan dalam obat-obatan tradisional Cina. Foto milik WCS.








Gajah Sumatera tertangkap perangkap kamera. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan subspesies dari gajah Asia yang dianggap Terancam Punah oleh Daftar Merah IUCN. Subspesies ini terdapat di Pulau Sumatera dan terancam oleh pemburuan dan penggundulan hutan. Foto milik WCS.








Foto penuh dari badak Sumatera yang Sangat Terancam Punah dan sangat sukar ditangkap, salah satu dari mamalia besar dunia yang membahayakan. Organisasi konservasi EDGE yang mengidentifikasi spesies menurut keunikan evolusioner mereka dan keterancaman punah dunia memasukkan badak Sumatera sebagai nomor enam dalam daftar mamalia dunia. Foto milik WCS.