Site icon Conservation news

Menanam Pohon Ara dapat Selamatkan Spesies Terancam di Borneo

Di salah satu hutan yang paling terpencil dan tak terganggu di Borneo, Lembah Maliau di kota Sabah, Malaysia, peneliti memilih sebuah pohon ara (Ficus caulocarpa) dan mensurvey spesies yang makan dari pohon tersebut dalam periode 5 hari. Penemuan mereka, dipublikasikan dalam Tropical Conservation Science, menunjukkan bahwa pohon ara dalam periode waktu yang pendek memberi makan banyak sekali persentase spesies yang terancam punah, mendorong para peneliti untuk menyarankan penanaman kembali pohon ara ini di hutan-hutan yang tak terganggu sebagai cara untuk menyelamatkan frugivora (spesies pemakan buah) dari kepunahan.


Pohon ara diketahui sebagai pendukung dari spesies di daerah tropis, karena mereka berbuah setahun penuh menyediakan sumber konstan buah-buahan bagi frugivora. Sebagai contoh, penelitian di Borneo telah menemukan bahwa 42 persen dari burung-burung yang diketahui dan 73 persen dari mamalia yang diketahui mendapat makanan dari pohon ara. Namun hewan-hewan pemakan buah ara membalas budi pohon tersebut dengan menyebarkan bibit – dan genetik – ke seluruh hutan.


Selama lima hari penelitian pohon Ficus caulocarpa di Lembah Maliau, peneliti menghitung 493 kunjungan dari 44 spesies burung dan tiga mamalia, seluruhnya tupai. Penemuan mereka menunjukkan bahwa ara ini, yang menghasilkan buah-buahan yang lebih kecil, memberi makan lebih banyak kelompok tertentu daripada banyak pohon ara lainnya di wilayah tersebut. Kebanyakan dari pengunjungnya merupakan burung-burung kecil, yang berebutan dengan burung-burung besar atau mamalia.


“Tidak adanya frugivora yang lebih besar di F. caulocarpa dalam penelitian kami menunjukkan bahwa interaksi frugivora-ara mungkin lebih terstruktur dengan baik dari yang terpikirkan sebelumnya, berdasar pada laporan dari wilayah-wilayah yang lebih banyak gangguan,” tulis penulisnya.


Penting, selama lima hari peneliti meneliti 15 spesies burung (34 persen dari jumlah burung yang diamati) yang terdaftar sebagai Hampir Terancam atau lebih parah oleh Daftar Merah IUCN.


“Ini menunjukkan bahwa tak hanya [ara] merupakan sumber penting bagi margasatwa, namun juga mereka menopang jumlah yang tidak seimbang dari spesies yang terancam,” tulis penulisnya. “Mungkin ini tidak mengejutkan karena frugivora sensitif khususnya pada tekanan pemburuan dan karenanya cenderung mendominasi daftar spesies yang terancam di hutan tropis.”


Para peneliti menyarankan ara semacam itu ditanam di hutan-hutan terdegradasi untuk meningkatkan keberadaanbuah bagi spesies yang terancam punah.


Karena frugivora terutama sensitif akan pemburuan dan penggundulan hutan, penulis juga menyebutkan bahwa pemantauan spesies ini di pohon ara di wilayah lain Borneo dapat menyediakan analisa cepat pada kesehatan ekosistem.


“Pengamatan singkat pada jumlah kecil [ara], kalau memungkinkan di seluruh tingkatan ukuran buah, dapat digunakan untuk menaksir bagaimana utuhnya komunitas frugifora pada sebuah daerah dan lebih luas lagi sebaik apakah daerah tersebut dilindungi,” tulis mereka.





Sreekar, R., Thi Phuong, L. N. Harrison, R. D. 2010. Vertebrate assemblage at a fruiting fig (Ficus caulocarpa) in Maliau basin, Malaysia. Tropical Conservation Science Vol. 3 (2):218-227.