Site icon Conservation news

Nestle menyerah pada tekanan aktivis tentang minyak kelapa

Nestle berusaha menghilangkan produk dengan “footprint penggundulan hutan”.


Setelah kampanye dua bulan yang dipelopori oleh Greenpeace melawan Nestle karena mereka menggunakan minyak kelapa yang terkait dengan perusakan hutan, raksasa pangan itu mengalah pada permintaan aktivis. Perusahaan berbasis di Swiss itu mengumumkan bahwa hari ini di Malaysia bahwa mereka akan menjalin rekanan dengan Forest Trust, sebuah organisasi non-profit internasional, untuk menghilangkan rantai pasokan dari sumber apapun yang terlibat dalam perusakan hutan hujan.



“Tindakan Nestle akan berfokus pada identifikasi sistemik dan penyingkiran perusahaan yang memiliki atau mengelola pertanian atau peternakan beresiko tinggi terkait dengan penggundulan hutan,” tertulis dalam sebuah press rilis dari perusahaan, menambahkan bahwa, “Nestle ingin memastikan bahwa produk-produknya tidak memiliki jejak penggundulan hutan.”



Nestle menyatakan bahwa di bawah petunjuk penggunaan sumber yang baru, mereka hanya akan menggunakan pemasok minyak kelapa yang tidak melanggar hukum setempat, melindungi hutan yang sangat dilindungi dan hutan lain dengan nilai ‘karbon tinggi’, melindungi lahan gambut yang penting bagi karbon, dan mendukung persetujuan masyarakat pribumi dan lokal yang bebas, didahulukan, dan terinformasi. Petunjuk ini akan diterapkan segera.



Orangutan telah menjadi simbol protes melawan minyak kelapa yang tidak berkesinambungan. Orangutan Sumatera, digambarkan di sini, sangat terancam punah, sebagian besar karena kehilangan habitat. Foto oleh: Rhett A. Butler.

“Untuk meminta salah satu ujung rantai pasokan untuk bertanggungjawab atas apa yang terjadi di ujung lainnya adalah sebuah perubahan permainan,” ujar Scott Poynton, direktur eksekutif dari Forest Trust dan seorang penjaga hutan Australia. “Jika keputusan Nestle menginspirasi perusahaan lain untuk bergabung dalam proses yang sama, kami dapat berhenti sibuk tentang garis dasar karbon dan pasar karbon hutan. Permintaan akan produk kesinambungan dapat bekerja tanpa mereka.”



Auditor bersama dengan Forest Trust akan mulai menyelidiki perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada akhir Mei. Forest Trust, sebelumnya dikenal sebagai Tropical Forest Trust, telah bekerjasama selama berdekade-dekade untuk penggunaan hutan yang bertanggungjawab dan berkesinambungan.



“Kami senang Nestle berencana memberi kesempata bagi orangutan dan kami mengajak retailer internasional lain, sepert Carrefour dan Wal-mart, untuk melakukan yang sama,” ujar Pat Venditti, Kepala Kampanye Hutan Greenpeace International dalam sebuah rilis pers. “Sejak awal kampanye kami, ratusan dari ribuan orang telah mengontak Nestle dan mengatakan mereka tidak akan membeli produk yang terkait dengan perusakan hutan.”



Kampanye melawan Nestle bukanlah sesuatu yang konvensional. Aksi melawan Nestle dimulai oleh Greenpeace dengan penyebaran video yang jelas yang mengangkat peran Nestle dalam penggundulan hutan melalui minyak kelapa, namun protes itu menjadi tindakan bunuh diri oleh Nestle tak lama setelah mereka menghapus videonya dari Youtube dan mennyebutnya pelanggaran hak cipta. Banyak yang menganggap tindakan Nestle tersebut sebagai penyensoran yang kejam dan menjadi semacam virus. Semua bertambah parah ketika pernyataan-pernyataan di dalam fan page Facebook mereka membuat Nestle bagi kebanyakan orang terbaca kasar dan arogan. Untuk beberapa hari kampanye menjadi tentang ketidakmampuan Nestle untuk memutuskan dan kearoganan mereka akibat sumber minyak kelapanya. Namun kini Nestle telah berjalan jauh dalam membenahi reputasinya yang babak belur.



Perkebunan kelapa sawit di dekat Taman Nasional Gunung Leuser di Pulau Sumatera, Indonesia. Foto oleh: Rhett A. Butler.

“Kebijakan baru Nestle mengirimkan pesan yang amat jelas kepada perusahaan-perusahaan yang menghancurkan hutan dan lahan gambut untuk perkebunan baru,” ujar Andy Tait, Penasihat Kampanye Senior Greenpeace. “Jika Anda tidak menghentikan penggundulanhutan dan melindungi lahan gambut, hari-hari Anda dalam memasok untuk merek-merek dunia seperti Nestle akan berhenti. Ini adalah langkah yang sangat positif oleh Nestle, namun penerapannya sangat penting, dan kami akan memantau kemajuannya dengan hati-hati.”



Menyerahnya Nestle juga berdampak pada bagaimana organisasi aktivis seperti Greenpeace melaksanakan protes di masa ddepan. Situs-situs sosial media – seperti Facebook, Twitter, dan Youtube – telah terbukti menjadi penting dalam kampanye aktivis melawan raksasa pangan. Dalam beberapa minggu, fan page Facebook Nestle dikuasai oleh publik yang marah meminta Nestle memutus hubungan apapun dengan perusahaan yang terlibat penggundulan hutan. Sebagai tambahan, debat atas minyak kelapa dan penggundulan hutan sepertinya telah bergeser lebih jauh dari sekedar di lingkaran lingkungan hidup ke area publik yang lebih luas.



Dalam porsinya, Nestle berjanji bahwa 100 persen dari minyak kelapanya akan berasal dari sumber yang berkesinambungan pada tahun 2015. Saat ini 18 persen dari minyak kelapa Nestle berasal dari sumber yang tersetifikasi berkesinambungan, namun perusahaan berharap untuk mencapai 50 persen pada akhir 2011. Meski begitu, perusahaan ini menambahkan bahwa mereka akan membeli dari siapa pun yang dapat membuktikan mereka mampu untuk memenuhi peraturan barunya.



“Jika Sinar Mas, atau lainnya, melakukan pekerjaan yang benar dalam hal kualitas, kemudahan penelusuran, memiliki rantai pasok yang transparan, tentu kami akan membeli dari mereka,” Jose Lopez, wakil eksekutif presiden Nestle, mengatakan seperti yang dilaporkan oleh Bloomsberg.



Perusahaan Indonesia Sinar Mas berada di pusat protes melawan perusahaan minyak kelapa dan penggundulan hutan. Pemasok ini baru-baru saja mengalami pemutusan kerjasama dari Nestle dan Unilever karena tuduhan yang terus-menerus akan perusakan hutan hujan, namun perusahaan ini masih memasok raksasa-pertanian Cargill yang juga memasok Nestle. Ini menjadi titik yang menonjol karena aktivis meminta Nestle memuutuskan keseluruhan rantai pasokannya, langsung maupun tak langsung, dari keterkaitan penggundulan hutan.



Gambar 1: Luas Penggundulan Hutan di Borneo 1950-2005, Proyeksi ke tahun 2020. Pulau Borneo terbagi menjadi Malaysia, Indonesia, dan Brunei.

“Sebagai bagian dari persetujuan, [Forest Trust] akan mengaudit pemasok Nestle dan akan membantu mengidentifikasi dan mengeluarkan mereka yang tidak melakukan hal yang benar,” jelas Poynton, “Dan jika ada pemasok yang ingin mengubah cara operasinya, tim kami di lapangan akan membantu mereka meningkatkan prakteknya dalam rangka untuk memenuhi persyaratan pembelian Nestle.”



Pokok penting dalam perdebatan ini adalah pentingnya hutan hujan dunia untuk memitigasi perubahan iklim dan melestarikan keanekaragaman hayati, dan juga menyediakan tempat bagi ‘pelayanan lingkungan’ seperti sumber air bersih dan penyerbukan.



Indonesia adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia sebagian besar akibat penggundulan hutan. Antara 1990 dan 2005, Indonesia kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 juta hektar hutan perawan. Tutupan hutan negara telah turun dari 82 persen di tahun 1960an menjadi kurang dari 50 persen saat ini.



Sebagai tambahan, Indonesia dan Malaysia – produsen minyak kelapa terbesar di dunia – adalah negara dengan keanekaragaman hayati terbanyak. Sementara orangutan telah menjadi simbol aktivis, ribuan spesies terancam akibat penggundulan hutan di wilayah tersebut termasuk gajah Asia, badak Sumatera dan Jawa, macan tutul, beruang madu, dan harimau Sumatera. Sekitar 30.000 spesies telah tercatat hanya di Indonesia dengan tambahan penemuan setiap tahun.



Nestle juga berjanji bahwa pemutusan rantai pasokannya dari keterkaitan penggundulan hutan tidak hanya berhenti di minyak kelapa, namun perusahaan ini, satu dari 50 perusahaan terbesar di dunia, berencana akan meneruskannya ke sumber bubur kertas dan kertas.



“Untuk pertama kalinya, perusahaan dunia mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan produknya memiliki jejak penggundulan hutan, dan bertindak untuk menjalankan kata-katanya,” Poyton menyimpulkan. “Ini adalah model [Forest Trust] pendorongan keseluruhan dari belakang – untuk meminta satu ujung rantai pasokan bertanggungjawab atas apa yang terjadi di ujung lainnya.”