Site icon Conservation news

Boikot minyak kelapa: sebuah pendekatan tidak realistis untuk konservasi keragaman hayati

Memboikot minyak kelapa yang diproduksi di Asia Tenggara adalah pendekatan yang “tidak realistis” dan “tidak efektif” untuk memelihara hutan hujan wilayah tersebut yang hilang dengan cepat, ucap seorang peneliti dari Princeton University di sebuah konferensi mengenai keberlangsungan minyak kelapa. Bahkan, LSM seharusnya fokus pada mengajak dan bekerja sama dengan industri minyak kelapa untuk mengurangi dampak mereka pada lingkungan.

Merujuk pada Konferensi Keberlanjutan Minyak Kelapa Internasional (International Palm Oil Sustainability Conference) pertama di Kota Kinabalu, Malaysia, biologis dari Princeton Dr. David S. Wilcove mengatakan bahwa industri minyak kelapa terlalu penting bagi ekonomi Indonesia dan Malaysia untuk dibenarkan masuk dalam larangan impor pada minyak yang dapat dikonsumsi dan digunakan dalam makanan, kosmetik, produk industri, dan biodiesel. Industri minyak kelapa memberikan kontribusi pada kesehatan, edukasi, dan infrastruktur di wilayah rural.


Lahad Datu, Malaysia. Photo by Rhett A. Butler

“Dalam konteks kepentingan ekonomi luar biasa-nya, harus disadari bahwa usaha untuk memboikot minyak kelapa adalah tidak praktis dan tidak realistis. Sederhananya, ini bukan pendekatan yang dapat berjalan.”

Walau keuntungan ekonomis dari minyak kelapa substansial, Wilcove berkata mereka harus mengorbankan keragaman biologis. Namun, Wilcove berharap meningkatnya kewaspadaan dari isu-isu lingkungan di antara produsen minyak kelapa dan kerjasama inovatif bisa menurunkan hasil terburuk pada keragaman hayati di wilayah tersebut. Ia mengatakan bahwa hal kecil untuk meningkatkan kekayaan spesies bisa menjadi keuntungan yang tidak diharapkan oleh para petani kelapa sawit, meski hal-hal seperti itu belum tentu cukup untuk mencegah hilangnya banyak spesies.

Menciptakan perkebunan yang lebih ramah pada keragaman hayati

Di penelitian yang melihat keragaman burung dan kupu-kupu di hutan primer, hutan yang ditebangi, perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit, Wilcove dan koleganya dari Princeton Dr. Lian Pin Koh menemukan bahwa pengubahan hutan hujan alami ke kelapa sawit menyebabkan penurunan yang tajam pada kekayaan spesies.

“Kami menemukan 77 persen penurunan di spesies burung hutan dalam konversi hutan berusia tua ke perkebunan kelapa sawit. Untuk kupu-kupu, penurunannya 83 persen,” jelasnya. “Sebagai perbandingan, 30 tahun setelah penebangan, hutan sekunder menyimpan sekitar 80 persen spesies hutan aslinya.”


Lahad Datu, Malaysia. Photo by Rhett A. Butler

Pengubahan lahan pertanian yang ada ke kelapa sawit mempunyai dampak yang jauh lebih kecil, menyebabkan 14 persen penurunan di spesies burung hutan yang masih tersisa. Wilcove mengatakan bahwa hasil-hasil tersebut memberikan pengetahuan mengenai cara untuk mengurangi hilangnya keragaman hayati dari ekspansi perkebunan di masa depan.

“Fokus pendirian kelapa sawit seharusnya di atas lahan yang telah terdegradasi dan diolah seperti lahan rumput dan perkebunan karet,” ucapnya. “Baik hutan primer dan sekunder penting bagi keberadaan keragaman hayati.”

Wilcove mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit yang terletak di dekat bidang-bidang kecil hutan alami memiliki lebih banyak jumlah spesies burung dan kupu-kupu. Lebih lanjut, perkebunan yang mempunyai penutup tanah dan epiphyte memiliki lebih banyak keragaman hayati. Dengan lain kata, perkebunan kelapa sawit yang mirip dengan hutan memiliki kekayaan spesies yang lebih banyak. Namun, meski ukuran tersebut dapat meningkatkan keragaman hayati di perkebunan kelapa sawit, mereka tidak cukup untuk mengganti apa yang hilang.

Suatu titik terang, Wilcove menyatakan bahwa kerjasama strategis antara para pemerhati lingkungan dan perusahaan minyak kelapa dapat menggerakkan usaha-usaha perlindungan yang lebih ekstensif.

Wilcove mengatakan bahwa suatu kelompok konservasi dapat mendirikan sebuah perkebunan kelapa sawit di dalam perkebunan karet dan membuat persetujuan dengan perusahaan minyak kelapa untuk mengatur perkebunan tersebut. Perusahaan akan dibayar untuk menutup biaya operasionalnya, tapi keuntungan dari penjualan minyak kelapa akan langsung masuk ke akuisisi lahan hutan untuk perlindungan. Secara potensial, skemanya dapat digunakan untuk mengembangkan pasar premium untuk minyak kelapa yang ramah terhadap keragaman hayati.

Dengan estimasinya dan Koh, secara hipotetis perkebunan seluas 2.000 hektar (5.000 akre) membutuhkan 25 juta dollar (menggunakan harga tahun lalu). Setelah enam tahun, biaya perkebunan bisa tertutup. Untuk kelangsungannya, perkebunan akan menghasilkan keuntungan 83 juta dollar. Hasil tersebut bisa untuk membiayai 14.500 hektar hutan.

Sebagai pembanding, menggunakan 25 juta dollar untuk membeli hutan secara langsung sebelum diolah hanya akan dapat menyelamatkan 4.000 hektar.

Wilcove mengatakan bahwa meski belum ada organisasi konservasi yang mengadopsi strategi tersebut, ada bukti yang menunjukkan peningkatan pembicaraan antara para pelaku konservasi dan industri minyak kelapa, termasuk kolaborasi baru-baru ini antara Cargill dan Conservation International di Papua Nugini, serta dukungan WWF dalam Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah inisiatif keberlangsungan yang dipimpin oleh industri.

“Saya anggap perkembangan ini sebagai sesuatu yang positif,” ucapnya. “Saya berharap melihat contoh yang lebih lanjut di tahun-tahun kedepan.”

Keuntungan dari keragaman hayati

Lebih dari potensi untuk menawarkan produk yang menyebabkan lebih sedikit kerusakan pada dasar-dasar sumber alam untuk generasi masa depan, Wilcove mengatakan bahwa industri minyak kelapa dapat memperoleh keuntungan lebih dari tingginya tingkat keragaman hayati dengan mengurangi kebutuhan pada pengaturan hama. Wilcove menyebutkan bahwa penelitian Koh yang menggunakan kandang-kandang pemisah, untuk menunjukkan bahwa burung memainkan peran yang penting dalam mengendalikan hama kelapa sawit.

“Burung, dan mungkin kelelawar, menyediakan jasa ekosistem yang penting tersebut,” katanya, berhati-hati karena hasil yang didapat masih awal dan dibutuhkan lebih banyak tindak lanjut. “Semakin banyak burung di sana, semakin besar keuntungannya untuk kelapa sawit… Peningkatan keragaman burung di dalam perkebunan bisa menguntungkan bagi produksi kelapa sawit.

Banyak perkebunan kelapa sawit sudah mengetahui nilai fungsi dari keragaman hayati ini. Sebuah teknik yang dikenal sebagai manajemen hama terintegrasi (integrated pest management – IPM) bergantung pada serangga, ular, dan burung hantu untuk mengendalikan hama perusak kelapa sawit, mengurangi kebutuhan pestisida beracun.


Orangutan in Borneo. Photo by Rhett A. Butler

Untuk merawat kesehatan populasi dari burung dan predator hama yang menguntungkan, “petani kelapa sawit seharusnya melindungi atau mengembalikan bidang-bidang tanah dari hutan alami, termasuk daerah penyangga sungai dan habitat di pinggiran perkebunan kelapa sawit, dan mereka seharusnya melanjutkan peningkatan tindakan untuk keragaman hayati saat ini, meliputi tumbuhan yang menguntungkan, tanaman polong penutup lahan, dan tumbuhan pakis di dalam perkebunan,” jelas Wilcove, menambahkan bahwa keberadaan habitat di sepanjang jalan air dapat menolong mencegah erosi. “Melakukan banyak hal tidak hanya menurunkan biaya produksi tapi dapat juga mengurangi dampak kerusakan dari pestisida pada pekerja perkebunan maupun lingkungan, dan juga memuaskan berkembangnya pilihan konsumen pada produk kelapa sawit yang dihasilkan melalui pengerjaan yang ramah lingkungan.

“Produsen kelapa sawit membutuhkan keragaman hayati, dan masyarakat membutuhkan minyak kelapa. Karenanya, konflik antara ekspansi kelapa sawit dan konservasi keragaman hayati tak akan bisa diselesaikan dengan setiap pihak menganggap yang lainnya adalah penjahat,” ucapnya. “Malahan, kedua pihak harus saling berbicara dan mencari solusi inovatif untuk masalah ini.”