Site icon Conservation news

Gazprom, Shell dan Clinton Foundation Dukung Kesepakatan Karbon Hutan Hujan di Borneo

Proyek konservasi hutan yang didukung oleh Shell, Gazprom Market and Trading dan Clinton Foundation di Pulau Borneo telah memenangkan persetujuan di bawah standar perhitungan karbon, menurut laporan Reuters.



Proyek Rimba Raya, yang mencakup hampir 100.000 ha (250.000 akre) hutan gambut di propinsi Kalimantan Tengah Indonesia, dapat mengurangi emisi yang diperkirakan hingga 75 juta ton metrik selama 30 tahun ke depan, menghasilkan ratusan juta biaya karbon dibawah program pengurangan emisi dari penggundulan hutan dan degradasi (REDD) yang didukung oleh PBB dan Bank Dunia.



Rimba Raya dikembangkan oleh InfiniteEARTH yang berbasis di Hong Kong bekerjasama dengan Orangutan Foundation International, yang ditujukan untuk melindungi kera merah dan habitat mereka. Proyek ini menghindari emisi karbon dioksida dengan melindungi lahan gambut dan hutan, yang menyimpan banyak sekali karbon di vegetasi dan tanah mereka.



Pengeringan dan pembukaan hutan gambut di Kalimantan Tengah, Indonesia. Foto oleh Rhett A. Butler.

Menurut Reuters, Rimba Raya menjadi “tonggak” dalam pembangunan pasar global kredit karbon hutan.



“Proyek ini telah memperoleh persetujuan pertama kali dari metode perhitungan untuk kemngukur pengurangan emisi karbon di bawah REDD,” tulis David Fogarty dan Sunanda Creagh di Reuters. “Program Standar Karbon Sukarela, standar yang paling dihormati untuk kompensasi karbon, menyetujui metodologi setelah lolos proses audit ganda dengan pengawasan. Proyek itu sendiri sedang dalam proses validasi pihak ketiga dan sepertinya akan menjadi proyek REDD yang disetujui VCS pertama kali di tahun ini.”



Fogarty dan Creagh mengatakan disetujuinya Rimba Raya akan memuliskan jalan untuk proyek REDD lainnya yang saat ini sedang dalam pengembangan, mengurangi beberapa ketidakpastian yang telah mewabah di pasar karbon hutan yang baru tumbuh.



Gazprom, yang mengendalikan 17% sumber gas alam dunia dan produsen gas terbesar di dunia, menyetujuinya dalam sebuah pernyataan.



“Ini dapat dilihat sebagai momen penanda bagi pasar karbon,” ujar Gazprom dalam sebuah rilis berita.



Penggundulan hutan, degradasi hutan dan lahan gambut merupakan sumber emisi gas rumah kaca yang lebih besar dibandingkan dengan seluruh mobil, truk, kapal, dan pesawat di dunia digabungkan. Konservasi hutan tropis saat ini dilihat sebagai satu dari jalan yang paling berbiaya-efektif untuk memerangi perubahan iklim, meski detail dari sekeliling mekanisme yang potensial untuk mengkompensasi berkurangnya penggundulan hutan masih belum jelas.




KUTIPAN: David Fogarty dan Sunanda Creagh. Indonesia project boosts global forest CO2 market. Reuters. Selasa, 24 Agustus, 2010.