Site icon Conservation news

Cara untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon

Para pemerhati lingkungan telah lama menyerukan keprihatinan atas berkurangnya hutan hujan Amazon, namun mereka belum begitu efektif dalam memperlambat hilangnya hutan tersebut. Bahkan, meski ratusan juta dollar dari dana bantuan telah mengalir ke wilayah tersebut sejak tahun 2000 dan telah ditetapkannya lebih dari 100 juta hektar wilayah yang dilindungi sejak tahun 2002, tingkat penggundulan hutan tahunan rata-rata telah meningkat sejak tahun 1990-an, puncaknya di 73.785 km persegi (28.488 mil persegi) punahnya hutan di antara tahun 2002 dan 2004. Dengan harga lahan yang meningkat cepat, meningkatnya peternakan dan industri pertanian kedelai, serta proyek infrastruktur di dalamnya yang bernilai milyaran dollar, tekanan pembangunan di Amazon diperkirakan akan meningkat.

Dengan kecenderungan ini, jelas bahwa pembicaraan mengenai usaha sendiri tidak akan menentukan nasib Amazon atau hutan hujan lainnya. Beberapa berpendapat bahwa ukuran pasar, yang menilai hutan untuk jasa ekosistem yang mereka sediakan juga sebagai pembangun penghargaan untuk performa lingkungan, akan menjadi kunci dalam menyelamatkan Amazon dari perusakan skala besar. Di akhir, mungkin saja pasar yang sama yang sekarang menyebabkan penggundulan hutan yang akan menyelamatkan hutan.

Mengenal nilai dari jasa ekosistem


Harapan untuk menghindari hasil terbururk dari Amazon makin terletak pada kepercayaan bahwa pasar akan segera membayar untuk jasa-jasa yang disediakan oleh hutan hujan yang sehat. Jasa-jasa ini – yang melingkupi perawatan keanekaragaman hayati, daur ulang hujan, penahan karbon, dan penyeimbang tanah, di antara lainnya – telah secara tradisional dihargai rendah oleh pasar, namun ada tanda-tanda bahwa situasi ini akan berubah: khususnya keputusan pada konferensi iklim PBB di Bali, Indonesia Desember lalu untuk mengenal konservasi hutan sebagai maksud untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari penggundulan hutan. Perubahan penggunaan lahan dan penggundulan hutan secara kasar menghasilkan satu-per-lima dari emisi gas rumah kaca—lebih dari seluruh sektor transportasi.

Di luar dari menerima kredit karbon di bawah Protokol Kyoto, mekanisme “mengurangi emisi dari degradasi dan penggundulan hutan” (reducing emissions from deforestation and degradation – REDD) akhir-akhir ini menemukan jiwa baru sebagai hasil dari usaha Koalisi Negara-Negara Hutan Hujan (Coalition for Rainforest Nations), sekelompok negara tropis yang meminta pembayaran untuk karbon yang tersimpan di dalam hutan mereka. Walau masih kontroversial, ketakutan bahwa REDD dapat membanjiri pasar karbon dengan kredit emisi murah telah beralih pada kesadaran bahwa mekanisme dapat memberi dana untuk konservasi hutan dan usaha pengurangan kemiskinan selaras dengan milyaran dollar pertahun sementara, pada saat yang bersamaan, juga memerangi perubahan iklim. REDD – yang disebutkan oleh Stern Review pemerintah Inggris tahun 2005 dapat menjadi salah satu cara yang paling efektif di harga untuk mengurangi emisi gas rumah kaca – telah memenangkan dukungan dari kepentingan yang berbeda-beda, termasuk sektor finansial, perusahaan energi, ilmuwan, ahli pembangunan, pembuat kebijakan, dan pemerhati lingkungan.


“Ini adalah situasi menang sama menang untuk semua yang terlibat,” ungkap William F. Laurance, peneliti di Smithsonian Tropical Research Institute. “Hutan menang, atmosfer menang, komunitas internasional menang, dan negara berkembang yang bergelut untuk mengatasi kemiskinan menang.”

Tetap, REDD mengadapi banyak tantangan, termasuk masalah mengenai hak lahan; penetapan dasar-dasar pengukuran tingkat reduksi pada penggundulan hutan; “kebocoran” saat pengukuran konservasi di satu area peralihan penggundulan hutan ke yang lainnya, penyediaan insentif yang cukup di negara-negara “rendah-hutan gundul”; dan memastikan bahwa masyarakat lokal melihat keuntungannya. Lebih jauh, karena REDD belum didukung oleh kerangka kerja internasional mengenai iklim, kredit dari terhindarnya hutan gundul dibatasi untuk pasar sukarela yang nilainya secara substansial di bawah kredit karbon konvensional. Contohnya, kredit di pasar sukarela seperti Chicago Climate Exchange saat ini diperdagangkan dengan 80-90 diskon pada biaya-biaya Uni Eropa.

Walau begitu, saat pembuat kebijakan berdebat tentang detailnya, beberapa investor telah mulai bergerak.

Penggerak

Desember lalu, Merril Lynch menginvestasikan 9 juta dollar untuk konservasi hutan hujan di Sumatera, berharap pada akhirnya mendapat keuntungan dari penjualan hasil kredit karbon. Keputusannya, dimakelari oleh Konservasi Karbon di Australia, bisa meningkat menjadi 432 juta dollar di pembelanjaan karbon setelah 30 tahun dengan mencegah penebangan dan pengubahan hutan Ulu Masen di propinsi Aceh untuk perkebunan kelapa sawit. Keuntungan dari persetujuan itu meluas melebihi bank, yang dirumorkan akan menghasilkan 3 milyar dollar dana untuk melindungi hutan dunia. Irwandi Jusuf, gubernur Aceh, melihat inisiatif ini sebagai langkah kunci dalam pembenahan wilayah akibat kerusakan tsunami 2004 dan tiga dekade perang sipil.

“Dunia membutuhkan hutan lebih banyak untuk menyimpan karbon,” kata Irwandi, mantan pemberontak yang merupakan salah satu dari 40 orang yang selamat setelah tsunami Desember 2004 menyerang penjara dimana dia sedang dikurung. “Aceh memiliki hutan-hutan ini… Kerja keras akan terletak dalam membiayai dan dan mengimplementasikan proyek yang kami ajukan untuk membantu memelihara sisa blok terbesar dari hutan Sumatera yang belum terlindungi.”

Untuk mendukung proyeknya, Irwandi telah menentukan penundaan pada penebangan dan mempekerjakan lebih dari 1000 mantan pejuang sebagai polisi hutan. Beberapa menyebutkan bahwa dengan menyediakan mata pencaharian untuk masyarakat desa, REDD meningkatkan keamanan di wilayah yang sebelumnya tidak stabil ini.

Penekanan pada keuntungan lokal adalah penting. Ahli pembangunan mengatakan bahwa inisiatif REDD akan hancur jika mereka tidak mengasingkan masyarakat lokal dan gagal menunjukkan pada penggerak-penggerak utama dalam degradasi dan perusakan hutan.

“Kebijakan yang mencoba untuk menghentikan penggundulan hutan perlu diolah untuk ditujukan pada situasi dan target aktifitas lokal yang berbeda-beda di wilayah seperti agrikultur, transportasi, dan finansial yang ada di luar batas-batas sektor kehutana,” ucap Markku Kanninen, penulis laporan Center for International Forestry Research (CIFOR) tentang REDD.

“Komunitas rural adalah penjaga gerbang karena mereka hidup dan bekerja di tanah tersebut,” tulis Rezal Kusumaatmadja, REDD project developer di Indonesia, dan Gabriel Thoumi, peneliti di University of Michigan’s Erb Institute for Global Sustainable Enterprise, dalam sebuah editorial yang dipublikasikan di Jakarta Post. “Komunitas lokal perlu diikutsertakan dalam proses proyek pembangunan [REDD].”

Jika dikerjakan dengan benar, REDD dapat membantu biaya inisiatif konservasi dan pembangunan berkesinambungan. Di beberapa wilayah, di mana infrastruktur lemah dan penyimpanan karbon tinggi, REDD dapat menawarkan penggantian yang menarik secara ekonomis menyangkut penebangan dan penggunaan lahan hutan untuk pertanian konfensional, terutama untuk komunitas rural yang seringkali dihindari oleh pembangunan industri hutan hujan. Sebagai contoh, sebuat penelitian oleh CIFOR dan World Agroforestry Centre (ICRAF) menunjukkan bahwa saat ini Indonesia melihat keuntungan 0,34 dollar per ton CO2 – kebanyakan dari agrikultur. Sebagai perbandingan, harga karbon Uni Eropa saat ini lebih dari 32 dollar per ton. Sementara, penelitian oleh Dr. Daniel Nepstad dari Woods Hole Research Institute menemukan break-even point sekitar 3 dollar per ton karbon untuk penghentian pembangunan di sebagian besar Amazon. Peternakan – penggerak utama dari penggundulan hutan di Amazon Brazil – telah menawarkan secara signifikan kurang dari yang ditawarkan sejarah. Lebih jauh, karena REDD cocok dengan panen yang berkelanjutan dari hasil hutan, ekoturisme berdampak trendah, dan pembayaran jasa lingkungan lainnya, ini bisa menjadi satu bagian dari skema pembangunan wilayah rural. Mengingat REDD, Woods Hole Research Institute mengestimasikan bahwa mengurangi penggundulan hutan di Amazon Brazil hingga hampir nol dalam satu dekade akan membutuhkan 100 juta hingga 600 juta dollar per tahun, sebuah jumlah yang lebih rendah dari kesempatan mendapatkan untung dari peternakan dan agrikultur yang menyebabkan penggundulan hutan. Di lain kata, REDD dapat menawarkan jalan yang paling efektif secara ekonomi untuk menghentikan penggundulan hutan.

Namun potensi ini tidak berakhir di REDD. Investor sedang bertaruh bahwa hutan akan berharga lebih banyak dibanding dengan karbon yang mereka simpan.
Di bulan Maret, sebuah firma keadilan swasta mengambil langkah tanpa teladan dengan membeli hak dari jasa lingkungan yang dihasilkan oleh 371.000 hektar hutan hujan lindung di Guyana. Canopy Capital di London secara efektif menyimpan uang, jasa yang dihasilkan oleh hutan hujan yang hidup – termasuk daur ulang hujan, perawatan aneka ragam hayati dan penyimpanan air – pada akhirnya akan muncul kompensasinya di pasar internasional. Perjanjiannya tidak biasa, di mana 80 persen dari keuntungan akan jatuh ke komunitas lokal. Empat persen lainnya akan menuju ke Global Company Program, sebuah kumpulan dari 29 institusi ilmiah yang mencari pemahaman lebih baik tentang ekosistem tropis.

Hylton Murray-Philipson, direktur dari Canopy Capital, mengatakan bahwa perjanjian itu ingin membangun sebuah pasar untuk “nilai kegunaan” dari hutan hujan yang hidup.

“Satu-satunya cara untuk membalik semua ini adalah dengan motif keuntungan. Ini yang dubutuhkan untuk memanfaatkan kekuatan pasar. Tapi ini tidak berhenti dengan membuat keuntungan – kita juga harus memberikan kehidupan yang lebih baik untuk masyarakat lokal,” tuturnya. “Kita harus mulai menghargai bagian-bagian hakiki dari hutan sebagai satu kesatuan daripada mengubahnya menjadi sesuatu yang lain.”

Canopy Capital bekerja untuk mengembangkan sebuah petunjuk sehingga hutan-hutan di seluruh dunia bisa dinilai dengan mudah atas nilai-nilainya sebagai suatu keutuhan ekosistem. Keindahan dari sistem adalah ia menyadiakan insentif langsung untuk usaha-usaha memfasilitasi konservasi.

“Petunjuk ini akan menggabungkan seluruh karakteristik untuk menciptakan sebuah ukuran dimana hutan di seluruh dunia dapat diukur untuk diberikan gelar keseragaman bagi investor,” jelas Murray-Philipson. “Sebuah keuntungan dari sistem rating adalah ia dapat mempromosikan pengembangan dari wilayah cagar alam dan konservasi baru. Sebagai contoh, kalau kamu berumur duapuluhan dengan kecintaan terhadap alam dan ketajaman pikiran, akan lebih berguna jika kamu pergi ke daerah yang sulit di suatu bagian dunia untuk meningkatkan sebuah wilayah hutan dengan membuat hubungan dengan keuntungan lokal agar mereka bergabung, menghentikan penebangan ilegal, dan memimpin survei keanekaragaman hayati. Aksi-aksi ini akan secara dasar meningkatkan nilaimu di sistem bobot, dan membuat hutan lebih berharga. Ini adalah cara untuk memanfaatkan motif profit.”

Contoh lain datang dari Pulau Borneo di mana New Forests, sebuah outfit investasi di Sydney, mendirikan sebuah skema bank konservasi alam liar berdasarkan pada rehabilitasi dari hutan lindung yang terdegradasi. Perusahaan ini berharap untuk mendapat penghasilan sebesar sekitar 15-25 persen dengan menjual “kredit proteksi aneka ragam hayati” kepada pengembang miyak kelapa, perusahaan energi, dan bisnis lain yang ingin menyediakan produk-produk lingkungan yang berkelanjutan bagi konsumennya.

“Kami berharap melalui pendekatan komersial pada konservasi, kami dapat berkontribusi untuk lingkungan berkelanjutan di Borneo yang menyangkut minyak kelapa, produksi kayu, dan konservasi alam liar yang diatur dengan harmonis dengan dasar komersial,” ucap David Brand, Managing Director New Forests.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa pasar untuk jasa ekosistem sedang muncul dan dapat menjadi bukti untuk model pembiayaan konservasi skala besar. Sementara korporasi yang mengejar kepentingan komersil dapat berakhir dengan melindungi hutan dunia, negara-negara miskin dapan memiliki jalan lain untuk mempergunakan aset alami mereka tanpa menghancurkannya.

“Menghentikan penggundulan hutan adalah kesempatan untuk membuat kemenangan melawan perubahan iklim,” ucap Andrew Mitchell, Direktur dari Global Company Program. “Hutan-hutan ini menyediakan mata pencaharian untuk 1,4 milyar dari masyarakat paling miskin di dunia, dan menawarka jasa penting bagi kelangsungan manusia, seperti daur ulang hujan dan merawal separuh dari seluruh kehidupan di dunia – keuntungan yang kita butuhkan tapi belum kita bayar.”

Insentif pasar

Di luar dari bangkitnya kompensasi untuk jasa ekosistem, ada tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa hutan gundul dapat diperlambat, termasuk meningkatkan manajemen kebakaran dengan pemilik lahan skala besar, menumbuhkan kepedulian di beberapa pasar komoditas tentang performa lingkungan dari pengembang, kesempatan berita untuk pembangunan yang berkelanjutan dan menghasilkan produktifitas, sera penetapan wilayah yang dilindungi di daerah di mana pembangan sedang meluas dengan cepat.

Dr. Nepstad mengatakan bahwa pemilik lahan di Amazon – terutama mereka dengan investasi sensitif api seperti anggrek, operasi ternak intensif, dan penebangan kayu teratur – membatasi penggunaan api sebagai alat manajemen lahan, mengurangi kecelakaan oleh api yang lolos ke wilayah hutan tetangga.

Pada saat yang sama, tanda-tanda positif datang dari industri. Produsen kedelai dan daging sapi merespon penekanan performa lingkungan dari pembeli komoditas – petani kedelai di Mato Grosso mengikuti penundaan penebangan hutan hujan untuk produksi kedelai, sementara para peternak sedang membentuk sistem sertifikasi mereka sendiri untuk standar lingkungan. Pemerintah Brasil baru-baru ini memberikan bantuan pada usaha-usaha tersebut dengan mengambil tindakan keras pada produksi komoditas gelap di Amazon, mengirimkan tentara sambil menerapkan denda dan mengancam akses kredit untuk pemilik lahan yang membeli atau menjual kedelai, daging sapi, dan produk lain yang diproduksi di lahan hutan gundul yang ilegal. Tetap, pemerintah Brasil perlu melakukan lebih banyak untuk meningkatkan pemerintahan denga menghilangkan korupsi dan menegakkan hukum-hukum yang ada. Usaha-usaha tersebut akan dapat mendapat keuntungan dengan pengawasan satelit state-of-the-art untuk Amazon, yang dapat memberi Brazil kemampuan untuk mengawasi dari atas. Brazil perlu untuk terus mengikutinya dengan kekuatan darat agar efektif, tapi sistem sertifikasi komoditas dapat membantu menggantikan pemerintah bila kekuatan penegak hukum sedang sedikit.

Sebagai contoh, di daerah Mato Grosso beberapa peternak telah mengikuti inisiatif yang dipimpin oleh Aliança da Terra, seorang nonprofit Brazil, yang mengambil alih rezim pemerintahan yang gagal. Aliança da Terra mencoba menciptakan insentif finansial untuk produsen yang patuh pada hukum Brazil yang ketat tapi jarang ditegakkan yang mengharuskan pemilik lahan untuk menjaga 80 persen dari lahan mereka sebagai hutan – batasan yang tidak dihadapi oleh peternak lain di dunia. Aliança da Terra bertujuan untuk mengubah larangan ini menjadi keuntungan pemasaran dengan memberi jaminan pada pembeli bahwa daging sapi bersertifikat ini diproduksi dengan legal dan berkelanjutan, kadang kala sebagai hasil dari persyaratan legal. Insentif untuk produsen adalah akses pasar: Aliança da Terra membantu petani dan peternak Brazil mendapatkan harga terbaik untuk produk mereka, asalkan mereka mengikuti aturannya. Sementara produsen mendapat harga lebih tinggi untuk produknya, pembeli bisa berkata bahwa mereka menggunakan daging sapi yang legal dan bertanggung jawab. Secara konsekuen, program ini memastikan akan semakin banyak hutan hujan yang terselamatkan, yang menyediakan lebih banyak jasa ekosistem dan aneka ragam hayati daripada sebaliknya.

Tapi untuk suatu sistem sertifikasi dapat bekerja, haruslah ada pembelian dari konsumen. Sekarang penggundulan hutan Amazon makin meningkat digerakkan oleh industri, daripada penghidupan dari agrikultur, kelompok advokasi lingkungan dapat mengambil keuntungan dari sensitivitas perusahaan pada citra publik tanpa resiko untuk meruntuhkan mata pencaharian jutaan penduduk miskin di desa. Dengan lain kata, transisi ekonomi yang muncul di Amazon telah secara efektif memberikan LSM suatu pengaruh baru dalam kampanye kesadaran konsumen.

Kelompok lingkungan hidup juga dapat mempengaruhi kebijakan yang berkontribusi pada penggundulan hutan. Sebagai contoh, menekan pembuat hukum Amerika untuk mengakhiri subsidi etanol jagung yang berperan kecil dalam melawan perubahan iklim dan menyebabkan distorsi yang merusak pada kemiskinan di pasar makanan dunia dapat membantu mengurangi tekanan pembangunan di Amazon. Mirip dengan itu, menyetujui untuk memotong emisi gas rumah kaca dapat meredakan perubahan iklim dan menawarkan keuntungan tambahan berkisar dari berkurangnya ketergantungan pada produk industri yang dihasilkan di lahan hutan hingga insentif ekonomi untuk konservasi hutan.

“Satu-satunya hal terbaik yang dapat dilakukan [Amerika Serikat] adalah menjadi pemimpin dalam perubahan iklim,” ucap Tom Lovejoy, direktur Heinz Center, sebuah kelompok kebijakan lingkungan. “Banyak hal yang kemudian akan tertata.”

Terpisah dari kebijakan AS, pendekatan internasional untuk mengangkat penggundulan hutan di Amazon akan gagal jika mereka tidak menyadari hak Brazil sebagai negara merdeka. Meski mereka dengan kukuh mempertahankan hak untuk mengolah sumber-sumber mereka sesuai yang mereka pikir cocok, Brazil telah mempunyai ide bahwa menjaga paling tidak sebagian dari Amazon tidaklah melawan pertumbuhan ekonomi. Bahkan integrasi ekonomi di Amazon sebagai ekosistem yang dapat hidup dapat memperbanyak mata pencaharian untuk sebagian penduduk Brazil yang paling putus asa.

Mengekang pembabatan baru tidak perlu berlawanan dengan pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi agrikultur di Brazil. Dengan estimasi pemerintah, negara ini memiliki sekitar 50 hektar padang rumput yang terdegradasi namun baik untuk ditanami yang bisa digunakan untuk perkebunan kedelai dan tebu. Kegunaan lebih rasional dari wilayah-wilayah yang telah dibabat dan terdegradasi, dikombinasikan dengan instensifikasi produksi peternakan dan kedelai, dapat mengurangi kebutuhan untuk membabat lahan hutan. Jalan yang amat menjanjikan unruk meningkatkan kesuburan dan produktivitas di Amazon adalah teknik bertani biochar yang mirip dengan yang digunakan oleh populasi pra-Kolombia. Tanah yang disebut “terra preta” menawarkan keuntungan tambahan dalam menahan karbon, membantu mengurangi konsentasi CO2 di atmosfer.

Ikut sertanya penduduk asli dalam mengurangi hilangnya hutan Amazon tidak akan berhenti dengan terra preta. Kelompok penduduk ini mengendalikan lebih dari seperempat Amazon dan akan menjadi bagian kunci dari “solusi” apapun tentang penggundulan hutan. Kelompok ini telah berjuang selama banyak dekade untuk mendapatkan hak akan lahan hutan yang telah mereka gunakan selama generasi-generasi sebelumnya. Jika mereka memilih untuk menjaganya, mereka seharusnya diberi kompensasi yang adil. REDD mungkin dapat menjadi kendaraan ideal untuk kompensasi semacam itu.

Hilangnya lebih dari 150.000 km persegi dari hutan selama lebih dari tujuh tahun yang lalu telah menunjukkan bahwa pendekatan bisnis seperti biasanya sendiri tidak akan cukup untuk menjaga bagian terbesar dari Amazon. Hutan haruslah menawarkan keuntungan nyata agar bisa dilindungi sebagai suatu ekosistem yang utuh. Pasar jasa ekosistem bisa jadi mekanisme terbaik untuk merealisasikan nilai ini. Pada saat yang sama, perbaikan pemerintahan, sistem kompensasi baru berdasarkan pasar yang menghargai performa lingkungan, dan lanjutan ekspansi wilayah yang dilindungi akan menjadi kunci untuk menyelamatkan hutan seperti Amazon.